A.
Teori
Piaget
Peaget mempunyai nama lengkap Jean
Piaget, lahir di Swiss tepatnya di Neuchatel pada tahun 1896. Piaget
merupakan salah satu pioner konstruktivis, ia berpendapat bahwa anak membangun
sendiri pengetahuannya dari pengalamannya sendiri dengan lingkungan. Dalam
pandangan Piaget, pengetahuan datang dari tindakan, perkembangan kognitif
sebagian besar bergantung kepada seberapa jauh anak anak aktif memanipulasi dan
aktif berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam hal ini peran guru adalah
sebagai fasilitator dan buku sebagai pemberi informasi. Kecenderungan
anak-anak SD beranjak dari hal-hal yang konkrit, memandang sesuatu kebutuhan
secara terpadu. Berdasarkan keceenderungan diatas maka, belajara adalah suatu
proses yang aktif, konstruktif, berorientasi pada tujuan, semuannya bergantung
pada aktifitas mental peserta didik.
Menurut Slavin dalam
(Nur :1998:27)
implikasi dari teori Piaget dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
a.
Memfokuskan pada proses
berfikir atau proses mental anak tidak sekedar pada produknya. Di samping
kebenaran jawaban siswa, guru harus memahami proses yang digunakan anak
sehingga sampai pada jawaban tersebut.
b. Pengenalan
dan pengakuan atas peranan anak-anak yang penting sekali dalam inisiatif diri
dan keterlibatan aktif dalam kegaiatan pembelajaran. Dalam kelas Piaget
penyajian materi jadi (ready made) tidak diberi penekanan, dan anak-anak
didorong untuk menemukan untuk dirinya sendiri melalui interaksi spontan dengan
lingkungan.
c. Tidak
menekankan pada praktek-praktek yang diarahkan untuk menjadikan anak-anak
seperti orang dewasa dalam pemikirannya.
d. Penerimaan terhadap
perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan, teori Piaget mengasumsikan
bahwa seluruh anak berkembang melalui urutan perkembangan yang sama namun
mereka memperolehnya dengan kecepatan yang berbeda.
Dari uraian
tersebut pembelajaran menurut konstruktivis dilakukan dengan memusatkan
perhatian kepada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya
dan mengutamakan peran siswa dalam kegiatan pembelajaran serta memaklumi adanya
perbedaan individu dalam kemajuan perkembangan yang dapat dipegaruhi oleh
perkembangan intelektual anak.
1.
Prinsip Pembelajaran Menurut Jean
Piaget
Tiga prinsip utama pembelajaran yang
dikemukakan Piaget, antara lain:
a. Belajar
aktif
Proses pembelajaran adalah proses
aktif, karena pengetahuan terbentuk dari dalam subyek belajar. Untuk membantu
perkembangan kognitif anak, kepadanya perlu diciptakan suatu kondisi belajar
yang memungkinkan anak belajar sendiri, misalnya: melakukan percobaan sendiri;
memanipulasi symbol-simbol; mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya
sendiri; membandingkan penemuan sendiri dengan penemuan temannya.
b. Belajar
lewat interaksi sosial
Dalam belajar perlu diciptakan
suasana yang memungkinkan terjadinya interaksi di antara subyek belajar.
Menurut Piaget belajar bersama baik dengan teman sebaya maupun orang yang lebih
dewasa akan membantu perkembangan kognitif mereka. Karena tanpa kebersamaan
kognitif akan berkembang dengan sifat egosentrisnya. Dan dengan kebersamaan
khasanah kognitif anak akan semakin beragam. Hal ini memperkuat pendapat dari
JL. Mursell.
c. Belajar
lewat pengalaman sendiri
Dengan menggunakan pengalaman nyata
maka perkembangan kognitif seseorang akan lebih baik daripada hanya menggunakan
bahasa untuk berkomunikasi. Berbahasa sangat penting untuk berkomunikasi namun
jika tidak diikuti oleh penerapan dan pengalaman maka perkembangan kognitif
seseorang akan cenderung mengarah ke verbalism
2.
Tahap-tahap pekembangan menurut
Piaget:
Ada 4 tahap
perkembangan kognitif anak-anak.
a.
Sensorimotor (0-2 tahun):anak
mengadaptasi dunia luar melalui perbuatan, belum mengenal bahasa, tidak
berfikir tentang dunia luar, Diakhir tahap ini mulai mempunyai /mengenal bahasa
b.
Pra Operasional ( 2-7 tahun ) : mulai
meningkatkan kosa kota, mengelompokkan benda-benda berdasarkan sifat-sifat,
Mulai memiliki pengetahuan fisik mengenai sifat-sifat benda danmulai memahami
tingkah laku dan organisme dalam lingkungannya, Tidak berfikir balik, Tidak
berfikir tentang bagian-bagian dan keseluruhan secaraserentak , Mempunyai
pandangan subyektif dan egosentrik.
c.
Operasi Konkret ( 6-11 atau 6-12
tahun): Mulai memandang dunia secara obyektif , Mulai
berfikir secara operasional, Membentuk hubungan aturan-aturan, prinsip ilmu
sederhana dan mempergunakan hubungan sebab akibat.Memahami konsep
substansi, volume, panjang lebar luas dan berat.
d.
Operasi
Formal ( 11 – 14 tahun keatas ): Mempergunakan pemikiran yang lebih
tinggi dari tahapsebelumnya.Membentuk hipotesa, dapat menghubungkan bukti
dengan teori.Dapat bekerja dengan ratio, proporsi dan probabilitas. Membangun
dan memahami penjelasan yang rumit.
3.
Dalam Pembelajaran IPA Pergunakanlah :
a.
Mulailah dari hal-hal yang konkret, yaitu kegiatan aktif mempergunakan pancaindra dengan benda nyata atau
konkret.
b.
Penata awal, Yaitu suatu informasi umum mengenai apa yang
akan diajarkan, agar murid mempunyai kerangka kerja untuk mengasimilasikan informasi baru ke dalam struktur kognitifnya.
c.
Pergunakanlah kegiatan yang
bervariasi karena murid mempunyai tingkat
perkembangan kognitif yang berbeda dan gaya belajar yang berlainan.
4.
Penerapan
Teori Piaget Dalam Pembelajaran IPA
Menurut
Piaget, ada sedikitnya tiga hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam
merancang pembelajaran di kelas, terutama dalam pembelajaran IPA. Ketiga hal
tersebut adalah :
a.
Seluruh anak melewati tahapan yang
sama secara berurutan ;
b.
Anak mempunyai tanggapan yang
berbeda terhadap suatu benda atau kejadian ;
c.
Apabila hanya kegiatan fisik yang
diberikan kepada anak, tidaklah cukup untuk menjamin perkembangan intelektual
anak.
5.
Cara
Pembelajaran IPA Berdasarkan Teori Piaget
a. Guru harus selalu memperhatikan pada
setiap siswa apa yang mereka lakukan, apakah mereka melaksanakan dengan benar,
apakah mereka tidak mendapatkan kesulitan.
b.
Guru harus berbuat seperti apa yang
Piaget perbuat yaitu memberikan kesempatan kepada anak untuk menemukan sendiri
jawabanya, sedangkan guru harus selalu siap dengan alternatif jabawab bila
sewaktu-waktu dibutuhkan.
c.
Pada akhir pembelajaran, guru
mengulas kembali bagaimana siswa dapat menemukan jawaban yang diinginkan
B.
Teori
Behavioristik
Menurut
teori behavioristik belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari
pengalaman (Gage, Berliner, 1984) Belajar merupakan akibat adanya interaksi
antara stimulus dan respon (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar
sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini
dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang
berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa,
sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang
diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon
tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat
diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang
diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh siswa (respon) harus
dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran
merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan
tingkah laku tersebut
Menurut teori behavioristik, belajar merupkan perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan
perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak
lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang
menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa
reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi,
sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon). Terdapat
beberapa tokoh yang menghembangkan teori belajar behaviorsitik, antara lain: Skinner (1904-1990): Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949), Robert Gagne ( 1916-2002), Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936), Albert Bandura
1.
Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran
Ipa
Skinner
mengakui bahwa aplikasi dari teori operant adalah terbatas, tetapi ia merasa
bahwa ada implikasi praktis bagi pendidikan. Ia mengemukakan bahwa control yang
positif (menyenangkan) mengandung sikap yang menguntungkan terhadap pendidikan,
dan akan lebih efektif jika digunakan. (Sudjana N, 1990: 92)
Dengan
three-term contingency modelnya (stimuli yang deskriptif, respons dan
reinforce) ia mengemukakan bahwa peranan utama dari pendidik adalah menciptakan
kondisi agar hanya tingkah laku yang diinginkan saja yang diberi penguatan.
Stimulus deskriminatif dipergunakan untuk memaksimalkan terjadinya tingkah laku
yang diinginkan. Ia menganjurkan untuk melakukan analisis langsung terhadap
aktiitas-aktivitas yang terjadi dalam situasi praktis untuk mengenal tingkah
laku yang pantas dan yang tidak pantas
secara tepat. Pendidik hendaknya melakukan catatan dari kemajuan siswa sehingga
dapat dilakukan perubahan program yang diperlukan siswa.
Informasi
yang diperoleh dapat diperbaiki untuk perbaikan selanjutnya baik mengenai
pendidikan maupun teknik yang dipakai dalam pendidikan. Pendidik perlu
mengetahui dan menentukan tugas-tugas mana yang akan dicoba (dilaksanakan),
bagaimana cara melaksanakannya dan hasil apa yang akan diharapkannya.
Menurut
Skinner mengajar adalah mengatur kesatuan penguat untuk mencapai proses
belajar. Dengan demikian tugas guru harus sebagai arsitek dalam membentuk
tingkah laku siswa melalui penguatan sehingga dapat membentuk respons yang
tepat bagi siswa.
Dengan kata
lain focus nyata dalam pengajaran adalah pemberian penguatan yang konsisten,
segera dan positif bagi tingkah laku yang tepat dan bagi pencapaian tujuan
pengajaran yang diinginkan. Pengajaran berprogram adalah model yang diajukan
oleh Skinner berdasarkan teori belajarnya. (Sudjana N, 1990 : 92-93)
Ada beberapa
prinsip pengajaran tingkah laku yang dapat digunakan berdasarkan aliran
behaviorisme menurut Skinner, yang dirancang agar pengetahuan siswa tetap
berada dalam benak siswa antara lain :
a. Perlu adanya
tujuan yang jelas dalam pengertian tingkah laku apa yang diharapka dicapai para
siswa. Tujuan diatur sedemikian rupa secara bertahap dari yang sederhana menuju
yang kompleks.
b. Memberikan
tekanan kepada kemajuan individu sesuai dengan kesanggupannya
c. Pentingnya
penilaian yang terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan yang dicapai
siswa
d. Prosedur
pengajaran dilakukan melalui modifikasi atas dasar hasil evaluasi dan kemajuan
yang dicapainya.
e. Hendaknya
digunakan positif reinforcement secara sistematis bervariasi, dan segera
manakah respons siswa telah terjadi.
f. Prinsip
belajar tuntas sebaiknya digunakan agar penguasaan belajar para siswa dapat
diperoleh sesuai dengan tingkah laku yang diharapkan (tujuan yang ingin dicpai
dari pengajaran)
g. Program
remedial bagi siswa yang memerlukan harus diberikan agar mencapi prinsip tujuan
belajar tuntas.
h. Peran guru
lebih diarahkan kepada peranannya sebagai arsitek dan pembentuk tingkah laku
siswa.
Untuk
mempertahankan atau mempertinggi perilaku, diberikan stimulus penguat dan menghilangkan
perilaku stimulus penguat dikurangi atau diturunkan. Untuk respon yang tepat
sebaiknya diberikan penguat positif secara langsung. Hasilnya dapat
dilihat bahwa seseorang akan
mempertahankan perilakunya (respons) dengan baik apabila diberikan stimulus
penguat. (Sudjana N, 1990 : 89)
Dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam teori belajar Behaviorisme yang berpedoman
pada perubahan tingkah laku setelah melakukan pembelajaran dapat diterapkan
dengan menggunakan stimus-stimulus yang dapat membangkitkan semangat siswa
dalam belajar dan mampu merangsang siswa untuk merubah perilakunya sesuai
dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai..
Untuk
mempertahankan pengetahuan dalam benak siswa dalam pembelajaran IPA sesuai
dengan teori Operant Concitioning yang dikemukan Skinner. Operant Concitioning
atau pengkondisian operan adalah suatu proses penguatan perilaku operan
(penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut
dapat berulang kembali. Dalam pembelajaran IPA agar pengetahuan
(perilaku/tindakan) siswa dapat bertahan dalam ingatannya perlu dilakukan
pengutan dengan cara mengulang (drill) materi yang diberikan atau dengan cara
memberikan pengutan kepada siswa yang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan
guru misalanya dengan memberikan pujian, memberikan nilai yang sangat
memuaskan, memberikan tepuk tangan, memberikan senyuman, ancungan jempol atau
dengan cara yang lainnya yang dapat membuat bangga siswa yang telah berhasil.
Untuk siswa yang tidak berhasil menjawab pertanyaan yang diberikan guru akan
diberikan kegiatan remedial sebagai bentuk penguatan berupa pengulangan
(drill).
Faktor lain
yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan
(reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka
respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan
(negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat.
Beberapa
prinsip dalam teori belajar behavioristik, meliputi:
a. Reinforcement
and Punishment;
b. Primary and
Secondary Reinforcement;
c. Schedules of
Reinforcement;
d. Contingency
Management;
e. Stimulus Control
in Operant Learning;
f. The
Elimination of Responses (Gage, Berliner, 1984).
C.
Landasan Teori Pengolahan Informasi
(Information Processing)
Teori
pengolahan informasi merupakan teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan
bagaimana informasi diterima, disimpan dan dipanggil kembali dari otak.
Pengajaran IPA pada umumnya akan
lebih efektif bila diselenggarakan melalui model-model pembelajaran yang
termasuk rumpun pengolahan informasi. Hal ini dikarenakan model-model
pembelajaran ini menekankan pada bagaimana seseorang berpikir dan bagaimana
dampaknya terhadap cara-cara mengolah informasi.
Para ahli teori pengolahan informasi
melakukan kajian tentang pembelajaran berdasarkan konsep memori manusia dengan
alur atau sistem pengolahan informasi yang mirip dengan pengolahan informasi
yang terjadi pada komputer. Langkah-langkah dalam sistem ini dimulai pada saat
salah satu atau lebih indera kita (penglihat, pendengar, pembau, peraba, dan
pengecap) menerima rangsangan dari luar (input). Rangsangan ini disimpan hanya
sesaat di dalam sensori register, yaitu tempat rangsangan tersebut dikenali
atau dipahami. Rangsangan-rangsangan yang mendapat atensi atau perhatian dan
dikenali itu kemudian dipindahkan ke memori jangka pendek (short term memory),
yaitu suatu tempat penyimpanan yang memiliki kapasitas yang sangat terbatas.
Memori jangka pendek juga berfungsi sebagai memori kerja (working memory) untuk
menyimpan apa yang sedang kita pikirkan pada suatu saat tertentu, yaitu
informasi yang diaktifkan atau sedang diproses. Informasi yang diaktifkan itu
berasal dari memori jangka panjang (long term memory), yaitu suatu tempat di
dalam sistem pikiran kita yang dapat menyimpan informasi dalam waktu lama.
a. Implikasi dalam pembelajaran
a. Implikasi dalam pembelajaran
a)
Tidak terlalu cepat
dalam penyampaian informasi satu ke yang lain (kesempatan) dan tidak terdesak
informasi berikutnya.
b)
Tidak terlalu banyak
ide dalam satu kali penyampaian, kecuali telah ada informasi pengait dalam jangka
panjang.
c)
Memberikan waktu /
kesempatan berfikir ketika harus menjawab pertanyaan.
Memori jangka panjang. Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori untuk menyimpan informasi dalam kurun waktu yang panjang dan kapasitas yang besar. Mempri yang telah tersimpan dalam memori jangka panjang tidak pernah akan terlupakan kemungkinan yang terjadi adalah kehilangan untuk menemukan kembali (recall).
Memori jangka panjang. Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori untuk menyimpan informasi dalam kurun waktu yang panjang dan kapasitas yang besar. Mempri yang telah tersimpan dalam memori jangka panjang tidak pernah akan terlupakan kemungkinan yang terjadi adalah kehilangan untuk menemukan kembali (recall).
b. Penerapan dalam Pembelajaran
Penerapan
dalam pembelajaran IPA adalah guru menjelaskan materi dengan menggunakan media
yang menarik. Kemudian guru melakukan tanya jawab untuk mengetahui sejauh mana
pemahaman siswa tentang materi
yang dijelaskan. Bila ada yang belum dimengerti siswa, guru mengulang
penjelasannya kembali.
D.
Teori
Konstruktivisme
Salah
satu landasan teoretik pendidikan IPA adalah teori pembelajaran konstruktivis.
Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri
pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses belajar mengajar.
Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher
centered. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan
berbasis pada aktivitas siswa.
Kontruktivisme
lahir dari gagasan Piaget dan Vigotsky, dimana keduanya menekankan bahwa
perubahan kognitif hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami
sebelumnya diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memahami
informasi-informasi baru. Piaget dan Vigotsky juga menekankan pada hakekat
sosial dari proses belajar dan keduanya menyarankan untuk menggunakan
kelompok-kelompok belajar dengan kemampuan anggota-anggota kelompok yang
berbeda-beda untuk mengupayakan perubahan kopnseptual.
a.
Pandangan
Konstruktivisme Tentang Belajar IPA
1. Belajar
sebagai Perubahan Konsepsi
Menurut
pandangan konstruktivisme keberhasilan belajar bergantung bukan hanya
pada lingkungan atau kondisi belajar, tetapi juga pada pengetahuan awal siswa.
Belajar melibatkan pembentukan “makna” oleh siswa dari apa yang mereka lakukan,
lihat, dan dengar. Pembentukan makna merupakan suatu proses aktif yang terus
berlanjut. Jadi siswa memiliki tanggung jawab atas belajar mereka sendiri.
2. Perubahan
Konsepsi dalam Pembelajaran IPA
Pembelajaran
dan perspektif konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti,
yaitu:
a.
Berkaitan dengan
prakonsepsi atau pengetahuan awal (prior knowledge).
b. Mengandung
kegiatan pengalaman nyata (experience).
c. Melibatkan
interaksi sosial ( social interaction).
d. Terbentuknya
kepekaan terhadap lingkungan (sense making).
Implikasi
pandangan konstruktivisme untuk pembelajaran dapat disarikan beberapa
kebaikan pembelajaran berdasarkan konstruktivisme adalah sebagai
berikut:
a.
Pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri,
berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan
tentang gagasannya.
b. Pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan
dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaiakan
dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang
fenomena dan memiliki (diberi) kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga
siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang
menantang.
c. Pembelajaran konstruktivisme memberi
siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya agar siswa berpikir
kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang teori dan model, mengenalkan
gagasan-gagasan sains pada saat yang tepat.
d. Pembelajaran konstruktivisme memberi
kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk
memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks baik yang telah
dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai
strategi belajar..
e. Pembelajaran konstruktivisme mendorong
siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka setelah menyadari kemajuan
mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan
mereka.
f. Pembelajaran konstruktivisme memberikan
lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan,
saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu “jawaban yang benar”.
Jadi,
dalam perspektif konstruktivisme belajar itu merupakan proses
perubahan konsepsi.
3. Pentingya
Konteks
Perubahan
konsepsi akan terjadi apabila kondisi yang memungkinkan terjadinya perubahan
konsepsi terpenuhi dan tersedia konteks ekologi konsepsi untuk berlangsungnya
perubahan itu. Ekologi konsepsi yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a.
Anak merasa tidak puas
dengan gagasan yang dimilikinya.
b. Gagasan
harus dapat dimengerti (intelligible).
c. Konsepsi
yang baru harus masuk akal (plausible).
d. Konsepsi
yang baru harus dapat memberi suatu kegunaan (fruitful).
b.
Penerapan
dalam pembelajaran
Penerapan
dalam pembelajaran IPA adalah siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Kemudian
guru memberikan suatu permasalahan dan siswa mendiskusikusikannya dalam
kelompok masing-masing. Guru memberi nilai yang baik bagi siswa yang aktif
dalam kelompoknya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dahar, R.W. 1991. Teori-Teori Belajar. Erlangga. Jakarta
Gage, Berliner, 1984. Teori Belajar
Behaviorisme. trimanjuniarso.wordpress.com
Kemendikbud. 2013. Konferensi
Pers Hasil UN SMP Sederajat Tahun Ajaran
2012/2013. Tersedia:http://www.kemdiknas.gogo.id/kemdikbud/sites/default/files/Konpres2013.pdf.
Nur, M. 1998. Teori-teori
Perkembangan. Surabaya : Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Sixth Edition. Boston:
Allyn and Bacon
Sudjana N, 1990.
Teori-Teori Belajar Untuk Pengajaran. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia. Jakarta
No comments:
Post a Comment