My Journey
SEMOGA BERMANFAAT
Tuesday, 24 March 2015
Sunday, 15 March 2015
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
I. MODEL INKUIRI
A. Pengertian Inkuiri
Model pembelajaran inquiry adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan
pada proses berpikir secara kritis dan analisis untuk
mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan (Sanjaya, 2006). Ia menambahkan
bahwa pembelajaran inkuiri ini bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk
membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan
proses-proses berpikir reflektif.
Jika berpikir menjadi tujuan utama dari pendidikan, maka harus ditemukan
cara-cara untuk membantu individu untuk membangun kemampuan itu.
Menurut piaget
( dalam Mulyasa, 2008) bahwa
model pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen
sendiri secara luas agar melihat apa yang
terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan
mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan
penemuan yang lain, membandingkan
apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain.
Dengan melihat
kedua pendapat di atas, maka dapat disimpulkan
bahwa model pembelajaran inquiry
adalah model pembelajaran yang mempersiapkan siswa
pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri sehingga dapat
berpikir secara kritis untuk
mencari dan menemukan jawaban dari suatu masalah
yang dipertanyakan.
Model
pembelajaran Inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi
pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa
dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran,
sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.
Strategi pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan
sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu
sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Model pembelajaran ini sering juga dinamakan model heuristic, yang berasal dari bahasa
Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.
B. Macam-macam Model Inkuiri
Model inkuiri
terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan besarnya intervensi guru terhadap siswa
atau besarnya bimbingan yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Ketiga jenis
pendekatan inkuiri tersebut adalah:
1. Inkuiri Terbimbing (guided inquiry approach)
Model inkuiri
terbimbing yaitu model inkuiri dimana guru membimbing
siswa melakukan kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada
suatu diskusi. Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan
tahap-tahap pemecahannya. model inkuiri terbimbing
ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman belajar dengan pendekatan
inkuiri.Dengan model ini siswa belajar lebih
beorientasi pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami
konsep-konsep pelajaran. Pada model ini siswa
akan dihadapkan pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik melalui
diskusi kelompok maupun secara individual agar mampu menyelesaikan masalah dan
menarik suatu kesimpulan secara mandiri.
Pada
dasarnya siswa selama proses belajar berlangsung akan memperoleh pedoman sesuai
dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak memberikan bimbingan,
kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan tersebut dikurangi, sehingga
siswa mampu melakukan proses inkuiri secara mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat
berupa pertanyaan-pertanyaan dan diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa
agar dapat memahami konsep pelajaran matematika.Di samping itu, bimbingan dapat
pula diberikan melalui lembar kerja siswa yang terstruktur. Selama
berlangsungnya proses belajar guru harus memantau kelompok diskusi siswa,
sehingga guru dapat mengetahui dan memberikan petunjuk-petunjuk dan scafolding
yang diperlukan oleh siswa.
2. Inkuiri Bebas (free inquiry approach).
Pada umumnya
model ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan
pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan
inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang
ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan
dan menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau
langkah-langkah yang diperlukan.
Selama
proses ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau bahkan tidak
diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan metode ini adalah
adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended dan mempunyai
alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena tergantung bagaimana
cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain itu, ada kemungkinan
siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum pernah ditemukan oleh
orang lain dari masalah yang diselidiki.
Sedangkan
belajar dengan model ini mempunyai beberapa
kelemahan, antara lain:
a.
Waktu yang
diperlukan untuk menemukan sesuatu relatif lama sehingga melebihi waktu yang
sudah ditetapkan dalam kurikulum.
b.
Karena diberi
kebebasan untuk menentukan sendiri permasalahan yang diselidiki, ada
kemungkinan topik yang diplih oleh siswa di luar konteks yang ada dalam
kurikulum,
c.
Ada
kemungkinan setiap kelompok atau individual mempunyai topik berbeda, sehingga
guru akan membutuhkan waktu yang lama untuk memeriksa hasil yang diperoleh
siswa,
d.
Karena topik
yang diselidiki antara kelompok atau individual berbeda, ada kemungkinan
kelompok atau individual lainnya kurang memahami topik yang diselidiki oleh
kelompok atau individual tertentu, sehingga diskusi tidak berjalan sebagaimana
yang diharapkan.
3. Inkuiri Bebas yang Dimodifikasikan ( modified free inquiry approach)
Pendekatan
ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan inkuiri
sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas.
Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap
diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam
pendekatan ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk
diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan pendekatan ini
menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan
tidak terstruktur.
Dalam
pendekatan inkuiri jenis ini guru membatasi memberi bimbingan, agar siswa
berupaya terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat
menemukan sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat
menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak
langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan yang
dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.
C. Ciri-ciri Model Pembelajaran Inkuiri
Pertama, model inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari
dan menemukan. Artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam
proses pembelajaran, siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran
melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan
sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
Kedua, seluruh aktivitas yang dilakukan siswa
diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang
dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self
belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan
sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar
siswa. Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab
antara guru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik
bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
Ketiga, tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran
inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan
kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses
mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak hanya
dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka dapat
menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya menguasai pelajaran
belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara optimal. Sebaliknya,
siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya manakala ia bisa menguasai
materi pelajaran.
Model
pembelajaran inkuiri merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang
berorientasi kepada siswa (student centered approach). Dikatakan demikian,
sebab dalam strategi ini siswa memegang peran yang sangat dominan dalam proses
pembelajaran.
D. Prinsip Penggunaan Model Pembelajaran Inkuiri
1.
Berorientasi pada Pengembangan
Intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir.
Dengan demikian, strategi pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil
belajar juga berorientasi pada proses belajar.
2.
Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi
antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa
dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan
guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau
pengatur interaksi itu sendiri.
3.
Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi ini adalah guru
sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada
dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Karena itu, kemampuan
guru untuk bertanya dalam setiap langkah inkuiri sangat diperlukan.
4.
Prinsip Belajar untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah
proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi
seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak
secara maksimal.
5.
Prinsip Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai
kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya.Tugas guru
adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan
hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.
E. Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Inkuiri
Secara umum
proses pembelajaran dengan menggunakan strategi dapat mengikuti langkah-langkah
sebagai berikut:
1.
Orientasi
Langkah
orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan
proses pembelajaran. Guru merangsang dan Mengajak siswa untuk berpikir
memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting.
Keberhasilan startegi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk
beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan
dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar.
2.
Merumuskan Masalah
Merumuskan
masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung
teka-teki.Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk
berpikir memecahkan teka-teki itu.Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah
yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa
didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang
sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut
siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya
mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3.
Merumuskan Hipotesis
Hipotesis
adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji.Sebagai
jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya.Perkiraan sebagai
hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir
yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis.
Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman
wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap
individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang
rasional dan logis.
4.
Mengumpulkan Data
Mengumpulkan
data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data
merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual.
Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam
belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan
potensi berpikirnya.
Karena itu,
tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang
dibutuhkan.Sering terjadi kemacetan berinkuiri adalah manakala siswa tidak
apresiatif terhadap pokok permasalahan.Tidak apresiatif itu biasanya
ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakgairahan dalam belajar.Manakala guru
menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus
memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan berbagai
jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang
untuk berpikir.
5.
Menguji Hipotesis
Menguji
hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan
data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Dalam menguji
hipotesis yang terpenting adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban
yang diberikan.Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan
hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang
ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6.
Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan
kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan
hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan merupakan gongnya dalam proses
pembelajaran. Sering terjadi, karena banyaknya data yang diperoleh, menyebabkan
kesimpulan yang dirumuskan tidak fokus pada masalah yang hendak dipecahkan.Karena
itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan
pada siswa data mana yang relevan.
F. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Inkuiri
Model pembelajaran Inkuiri merupakan model
pembelajaran yang banyak dianjurkan, karena model ini memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:
1) Model ini merupakan strategi pembelajaran
yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor
secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui model ini dianggap lebih bermakna.
2) Model ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.
3) Model ini merupakan model yang dianggap sesuai dengan
perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses
perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
4) Keuntungan lain adalah model
pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas
rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan
terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Di samping memiliki
keunggulan, model ini juga mempunyai kelemahan,
di antaranya:
1)
Jika model ini digunakan sebagai model
pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
2)
Model ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh
karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3)
Kadang-kadang dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
4)
Selama kriteria
keberhasian belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran,
maka model ini akan sulit diimplementasikan oleh setiap
guru.
II. MODEL CONTEXTUAL
TEACHING AND LEARNING (CTL)
A.
Pengertian
CTL
Menurut
Nurhadi dalam Sugiyanto (2007) CTL (Contextual
Teaching and Learning) adalah
konsep belajar yang mendorong guru untuk menghubungkan antara materi yang
diajarkan dan situasi dunia nyata siswa.
Menurut
Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang
bertujuan untuk menolong para siswa melihat siswa melihat makna didalam materi
akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik
dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.
Berdasarkan
pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa CTL adalah konsep
belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
B. Karakteristik Contextual Teaching and Learning (CTL)
Menurut
Johnson (dalam Nurhadi, 2003:4) terdapat delapan utama yang menjadi
karakteristik pembelajaran kontekstual, yaitu
1.
Melakukan hubungan yang
bermakna
2.
Mengerjakan pekerjaan yang
berarti
3.
Mengatur cara belajar sendiri
4.
Bekerja sama
5.
Berpikir kritis dan kreatif
6.
Mengasuh atau memelihara
pribadi siswa
7.
Mencapai standar yang tinggi
8.
Menggunakan penilaian
sebenarnya
C. Komponen- komponen Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual melibatkan
tujuh komponen utama dari pembelajaran produktif yaitu : konstruktivisme
(Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry),
masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modelling),
refleksi (Reflection) dan penilaian yang sebenarnya (Authentic
Assessment) (Depdiknas, 2003:5).
1.
Konstruktivisme (Constructivism)
Setiap
individu dapat membuat struktur kognitif atau
mental berdasarkan pengalaman mereka maka setiap individu dapat membentuk
konsep atau ide baru, ini dikatakan sebagai konstruktivisme. Fungsi guru disini
membantu membentuk konsep tersebut melalui metode penemuan (self-discovery),
inquiri dan lain sebagainya, siswa berpartisipasi secara aktif dalam membentuk
ide baru.
Konstruktivisme
merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas.
Pengetahuan
bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil atau
diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui
pengalaman nyata. Berdasarkan pada pernyataan tersebut, pembelajaran harus
dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan (Depdiknas,
2003:6).
Sejalan
dengan pemikiran Piaget mengenai kontruksi pengetahuan dalam otak. Manusia
memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang
masing-masing berisi informasi bermakna yang berbeda-beda. Setiap kotak itu
akan diisi oleh pengalaman yang dimaknai berbeda-beda oleh setiap individu.
Setiap pengalaman baru akan dihubungkan dengan kotak yang sudah berisi
pengalaman lama sehingga dapat dikembangkan. Struktur pengetahuan dalam otak
manusia dikembangkan melalui dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi.
2.
Bertanya (Questioning)
Bertanya
merupakan strategi utama dalam pembelajaran
kontekstual. Kegiatan bertanya digunakan oleh guru untuk mendorong, membimbing
dan menilai kemampuan berpikir siswa sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya
merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang
berbasis inquiry. Dalam sebuah pembelajaran yang
produktif, kegiatan bertanya berguna untuk :
1)
Menggali informasi, baik
administratif maupun akademis;
2)
Mengecek pengetahuan awal siswa dan
pemahaman siswa;
3)
Membangkitkan respon kepada siswa;
4)
Mengetahui sejauh mana keingintahuan
siswa;
5)
Memfokuskan perhatian siswa pada
sesuatu yang dikehendaki guru;
6)
Membangkitkan lebih banyak lagi
pertanyaan dari siswa;
7)
Menyegarkan kembali pengetahuan
siswa.
3.
Menemukan (Inquiry)
Menemukan
merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis
CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang
diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari
menemukan sendiri (Depdiknas, 2003). Menemukan atau inkuiri dapat diartikan
juga sebagai proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui
proses berpikir secara sistematis. Secara umum proses inkuiri dapat dilakukan
melalui beberapa langkah, yaitu :
1)
Merumuskan masalah ;
2)
Mengajukan hipotesis;
3)
Mengumpulkan data;
4)
Menguji hipotesis berdasarkan data
yang ditemukan;
5)
Membuat kesimpulan.
Melalui
proses berpikir yang sistematis, diharapkan siswa memiliki sikap
ilmiah, rasional, dan logis untuk pembentukan kreativitas siswa.
4.
Masyarakat belajar (Learning
Community)
Konsep Learning
Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama
dengan orang lain. Hasil belajar itu diperoleh dari sharing antarsiswa,
antarkelompok, dan antar yang sudah tahu dengan yang belum tahu tentang suatu
materi. Setiap elemen masyarakat dapat juga berperan disini dengan berbagi
pengalaman (Depdiknas, 2003).
5.
Pemodelan (Modeling)
Pemodelan
dalam pembelajaran kontekstual merupakan sebuah keterampilan atau pengetahuan
tertentu dan menggunakan model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara
mengoperasikan sesuatu atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuau. Dalam
arti guru memberi model tentang “bagaimana cara belajar”. Dalam
pembelajaran kontekstual, guru bukanlah satu-satunya model. Model dapat
dirancang dengan melibatkan siswa.
6.
Refleksi (Reflection)
Refleksi
merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir
kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan
apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Struktur
pengetahun yang baru ini merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan
sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau
pengetahun yang baru diterima (Depdiknas, 2003).
Pada
kegiatan pembelajaran, refleksi dilakukan oleh seorang guru pada akhir
pembelajaran. Guru menyisakan waktu sejenak agar siswa dapat melakukan refleksi
yang realisasinya dapat berupa :
1)
Pernyataan langsung tentang apa-apa
yang diperoleh pada pembelajaran yang baru saja dilakukan.;
2)
Catatan atau jurnal di buku siswa;
3)
Kesan dan saran mengenai
pembelajaran yang telah dilakukan.
7. Penilaian yang sebenarnya
(Authentic Assessment)
Penilaian
autentik merupakan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan
gambaran perkembangan belajar siswa agar guru dapat memastikan apakah siswa
telah mengalami proses belajar yang benar. Penilaian autentik menekankan pada
proses pembelajaran sehingga data yang dikumpulkan harus diperoleh dari
kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Karakteristik authentic
assessment menurut (Depdiknas , 2003) di antaranya: dilaksanakan selama dan sesudah proses belajar
berlangsung, bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif, yang diukur
keterampilan dan sikap dalam belajar bukan mengingat fakta, berkesinambungan,
terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedback. Authentic
assessment biasanya berupa kegiatan yang dilaporkan, PR, kuis, karya siswa,
prestasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis
dan karya tulis.
D. Implementasi
CTL
Untuk dapat
mengimplementasikan pembelajaran kontekstual, guru dalam pembelajarannya
mengaitkan antara materi yang akan diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama CTL.
E. Kelebihan dan
Kekurangan Contextual Teaching and Learning
1.
Kelebihan
a.
Pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapatmenagkap
hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal
inisangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan
dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi
secara fungsional, akantetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat
dalam memori siswa, sihingga tidak akanmudah dilupakan.
b.
Pembelajaran lebih produktif dan mampu
menumbuhkan penguatan konsep kepada siswakarena metode pembelajaran CTL
menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswadituntun untuk menemukan
pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa
diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.
2.
Kelemahan
a.
Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena
dalam metode CTL. Guru tidak
lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah timyang
bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi
siswa.Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan
belajar seseorangakan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan
pengalaman yang dimilikinya.
Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai
instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah
pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengantahap perkembangannya.
b.
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan atau menerapkan sendiri ide – ide dan mengajak siswa agar
dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi– strategi mereka
sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru
memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa
agar tujuan pembelajaran sesuai denganapa yang diterapkan semula.
III.
MODEL
COOPERATIVE LEARNING
A.
Pengertian
Model Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model
pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada
dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang,
rendah). Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam
menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam
rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Holubec dalam Nurhadi mengemukakan belajar kooperatif
merupakan pendekatan pembelajaran melalui kelompok kecil siswa untuk bekerja
sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang secara sadar dan sistematis
mengembangkan interaksi yang saling asah, silih asih, dan silih asuh. Sementara
itu, Bruner dalam Siberman menjelaskan bahwa belajar secara bersama merupakan
kebutuhan manusia yang mendasar untuk merespons manusia lain dalam mencapai
suatu tujuan.
Menurut Nur (2000), semua model
pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan, dan
struktur penghargaan. Struktur tugas, struktur tujuan, dan struktur penghargaan
pada model pembelajaran kooperatif berbeda dengan struktur tugas, struktur
tujuan, dan struktur penghargaan pada model pembelajaran yang lain. Dalam
proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif, siswa didorong untuk
bekerja sama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan
usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model
pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa
dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta berkembangnya
keterampilan sosial.
B. Prinsip
Dasar Dan Karakteristik Model Pembelajaran Cooperative Learning
Menurut Johnson & Johnson,
prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a)
Setiap anggota kelompok (siswa)
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b)
Setiap anggota kelompok (siswa)
harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c)
Setiap anggota kelompok (siswa)
harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
d)
Setiap anggota kelompok (siswa) akan
dikenai evaluasi.
e)
Setiap anggota kelompok (siswa)
berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama
proses belajarnya
f)
Setiap anggota kelompok (siswa) akan
diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam
kelompok kooperatif.
Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif
adalah:
a)
Siswa dalam kelompok secara
kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan
dicapai.
b)
Kelompok dibentuk dari beberapa
siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi,
sedang, dan rendah.
c)
Penghargaan lebih menekankan pada
kelompok daripada masing-masing individu.
Dalam pembelajaran kooperatif
dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi
kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling
memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling
menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Terdapat 6 (enam)
langkah model pembelajaran kooperatif:
a)
Menyampaikan tujuan dan memotivasi
siswa
b)
Menyajikan informasi
c)
Mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok-kelompok belajar
d)
Membimbing kelompok belajar
e)
Evaluasi dan pemberian umpan balik
f)
Memberikan penghargaan
C. Keunggulan
dari model pembelajaran kooperatif adalah:
a)
Membantu siswa belajar berpikir
berdasarkan sudut pandang suatu subjek bahasan dengan memberikan kebebasan
siswa dalam praktik berpikir,
b)
Membantu siswa mengevaluasi logika
dan bukti-bukti bagi posisi dirinya atau posisi yang lain,
c)
Memberikan kesempatan pada siswa
untuk memformulasikan penerapan suatu prinsip,
d)
Membantu siswa mengenali adanya
suatu masalah dan memformulasikannya dengan menggunakan informasi yang
diperoleh dari bacaan atau ceramah,
e)
Menggunakan bahan-bahan dari anggota
lain dalam kelompoknya, dan
f)
Mengembangkan motivasi untuk belajar
yang lebih baik.
D. Tipe-Tipe
Dan Teknik Aplikasinya
Beberapa tipe model pembelajaran kooperatif yang
dikemukakan oleh beberapa ahli antara lain Slavin adalah sebagai berikut:
1. Jigsaw
Jigsaw adalah tipe pembelajaran
kooperatif yang dikembangkan oleh Elliot Aronson’s. Model pembelajaran ini
didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya
sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi
yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi
tersebut kepada kelompoknya.
Sesuai dengan namanya, teknis
penerapan tipe pembelajaran ini maju mundur seperti gergaji. langkah-langkah
penerapan model pembelajaran Jigsaw dalam matematika, yaitu:
a)
Membentuk kelompok heterogen yang
beranggotakan 4 – 6 orang
b)
Masing-masing kelompok mengirimkan
satu orang wakil mereka untuk membahas topik, wakil ini disebut dengan kelompok
ahli
c)
Kelompok ahli berdiskusi untuk
membahas topik yang diberikan dan saling membantu untuk menguasai topik
tersebut
d)
Setelah memahami materi, kelompok
ahli menyebar dan kembali ke kelompok masing-masing, kemudian menjelaskan
materi kepada rekan kelompoknya
e)
Guru memberikan tes individual pada
akhir pembelajaran tentang materi yang telah didiskusikan
Kunci pembelajaran ini adalah
interpedensi setiap siswa terhadap anggota kelompok untuk memberikan informasi
yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan tes dengan baik. Bila
dibandingkan dengan metode pembelajaran tradisional, model pembelajaran Jigsaw
memiliki beberapa kelebihan yaitu:
a)
Mempermudah pekerjaan guru dalam
mengajar,karena sudah ada kelompok ahli yang bertugas menjelaskan materi kepada
rekan-rekannya
b)
Pemerataan penguasaan materi dapat
dicapai dalam waktu yang lebih singkat
c)
Metode pembelajaran ini dapat
melatih siswa untuk lebih aktif dalam berbicara dan berpendapat.
Dalam penerapannya sering dijumpai
beberapa permasalahan yaitu :
a)
Siswa yang aktif akan lebih
mendominasi diskusi, dan cenderung mengontrol jalannya diskusi. Untuk
mengantisipasi masalah ini guru harus benar-benar memperhatikan jalannya diskusi.
Guru harus menekankan agar para anggota kelompok menyimak terlebih dahulu
penjelasan dari tenaga ahli. Kemudian baru mengajukan pertanyaan apabila tidak
mengerti.
b)
Siswa yang memiliki kemampuan
membaca dan berfpikir rendah akan mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi
apabila ditunjuk sebagai tenaga ahli. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus
memilih tenaga ahli secara tepat, kemudian memonitor kinerja mereka dalam
menjelaskan materi, agar materi dapat tersampaikan secara akurat.
c)
Siswa yang cerdas cenderung merasa
bosan. Untuk mengantisipasi hal ini guru harus pandai menciptakan suasana kelas
yang menggairahkan agar siswa yang cerdas tertantang untuk mengikuti jalannya
diskusi.
d)
Siswa yang tidak terbiasa
berkompetisi akan kesulitan untuk mengikuti proses pembelajaran
Langkah-langkah mengaplikasikan tipe
Jigsaw dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
a)
Guru membagi suatu kelas menjadi
beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4-6 siswa dengan
kemampuan yang berbeda-beda baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah
serta jika mungkin anggota berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi
tetap mengutamakan kesetaraan jender. Kelompok ini disebut kelompok asal.
Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi
pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang
akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari
salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi
pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok
ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan
bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana
menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini
oleh Aronson disebut kelompok jigsaw (gigi gergaji). Misal suatu kelas
dengan jumlah siswa 40, dan materi pembelajaran yang dicapai sesuai dengan
tujuan pembelajarannya terdiri dari dari 5 bagian materi pembelajaran, maka
dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang beranggotakan 8 siswa dan 8
kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan
kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh dalam
diskusi di kelompok ahli dan setiap siswa menyampaikan apa yang telah diperoleh
atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik
yang dilakukan oleh kelompok ahli maupun kelompok asal.
b)
Setelah siswa berdiskusi dalam
kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi
masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk
menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat
menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
c)
Guru memberikan kuis untuk siswa
secara individual.
d)
Guru memberikan penghargaan pada
kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil
belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
e)
Materi sebaiknya secara alami dapat
dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
f)
Perlu diperhatikan bahwa jika
menggunakan tipe Jigsaw untuk belajar materi baru, perlu dipersiapkan suatu
tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran
dapat tercapai.
2. NHT (Number Heads Together)
Pembelajaran kooperatif tipe NHT
dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993). Pada umumnya NHT digunakan untuk
melibatkan siswa dalam penguatan pemahaman pembelajaran atau mengecek pemahaman
siswa terhadap materi pembelajaran dengan mengutamakan adanya kerjasama
antar siswa dalam kelompok. Para siswa
dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi
pelajaran yang telah ditentukan.
Tujuan dibentuknya kelompok
kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat
secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam
hal ini sebagian besar aktifitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni
mempelajari materi pelajaran serta berdiskusi untuk memecahkan masalah. Pembelajaran
kooperatif tipe NHT merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang
menekankan pada struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola
interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan penguasaan akademik.
Tipe ini dikembangkan oleh Kagen dalam Ibrahim (2000: 28) dengan melibatkan
para siswa dalam menelaah bahan yang tercakup dalam suatu pelajaran dan
mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Ibrahim mengemukakan
tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT
yaitu :
- Hasil belajar akademik stuktural. Bertujuan
untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
- Pengakuan adanya keragaman. Bertujuan agar
siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar
belakang.
- Pengembangan keterampilan social. Bertujuan
untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.
Keterampilan yang dimaksud antara
lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau
menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.Penerapan
pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Kagen dalam Ibrahim (2000:
29), dengan tiga langkah yaitu:
a)
Pembentukan kelompok;
b)
Diskusi masalah;
c)
Tukar jawaban antar kelompok
Langkah-langkah tersebut kemudian
dikembangkan oleh Ibrahim (2000: 29) menjadi enam langkah sebagai berikut :
- Persiapan.
Dalam tahap
ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran
(SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif
tipe NHT.
- Pembentukan kelompok
Dalam
pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.
Guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 3-5 orang
siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok
yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari
latar belakang sosial, ras, suku, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain
itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes awal (pre-test) sebagai
dasar dalam menentukan masing-masing kelompok.
- Tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku
panduan.
Dalam
pembentukan kelompok, tiap kelompok harus memiliki buku paket atau buku panduan
agar memudahkan siswa dalam menyelesaikan LKS atau masalah yang diberikan oleh
guru.
- Diskusi masalah
Dalam kerja
kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan
dipelajari. Dalam kerja kelompok setiap siswa berpikir bersama untuk
menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari
pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh
guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari yang bersifat spesifik sampai yang
bersifat umum.
- Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban
Dalam tahap
ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor
yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.
- Memberi kesimpulan
Guru bersama
siswa menyimpulkan jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan
materi yang disajikan.
Ada beberapa manfaat pada model
pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang
dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim (2000: 18), antara lain adalah :
a)
Rasa harga diri menjadi lebih tinggi
b)
Memperbaiki kehadiran
c)
Penerimaan terhadap individu menjadi
lebih besar
d)
Perilaku mengganggu menjadi lebih
kecil
e)
Konflik antara pribadi berkurang
f)
Pemahaman yang lebih mendalam
g)
Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan
dan toleransi
h)
Hasil belajar lebih tinggi
3. STAD (Student
Teams Achievement Divisions)
Pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions) merupakan salah satu
tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dengan menggunakan
kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-6 orang siswa
secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian
materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.
Slavin dalam Trianto, (2007:26) menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam kelompok belajar
beranggotakan 4-6 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis
kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam
kelompok mereka memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai
pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang materi
tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
Menurut slavin
dalam Trianto, (2007:16)
Student Team Achievement Division (STAD)
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Bahan
pelajaran disajikan oleh guru dan siswa harus mencurahkan perhatiannya, karena hal itu akan
mempengaruhi hasil kerja didalam kelompok.
b.
Anggota
kelompok terdiri empat sampai enam orang siswa, mereka heterogen dalam berbagai
hal seperti prestasi akademik dan jenis kelamin.
c.
Setelah
tiga kali pertemuan diadakan tes individu berupa kuis mingguan yang harus
dikerjakan siswa sendiri.
d.
Materi
pelajaran disiapkan oleh guru dalam bentuk lembar kerja siswa
e.
Menempatkan
siswa dalam kelompok lebih baik ditentukan oleh Guru dari pada memilih sendiri.
STAD terdiri dari tahap-tahap kegiatan pengajaran sebagai berikut:
a.
Penyajian
materi: mempresentasikan materi pelajaran.
b.
Kerja
kelompok: setiap kelompok yang terdiri dari 4-6 orang yang heterogen, tiap
siswa diberikan lembar kerja siswa (LKS) berisikan tugas atau kegiatan yang
harus dikerjakan berkaitan dengan materi pelajaran yang telah dijelaskan oleh
guru. Siswa akan berinteraksi dan saling membantu, mendiskusikan tugas yang
harus mereka selesaikan.
c.
Kuis:
siswa mengerjakan kuis secara individu sekalipun skor yang ia peroleh nanti
digunakan untuk menetukan keberhasilan kelompoknya.
d.
Perhitungan
skor dengan penghargaan kelompok: skor yang diperoleh setiap anggota dalam kuis
akan berkontribusi pada kelompok mereka, dan didasarkan pada sejauh mana skor
mereka telah meningkat dibandingkan dengan skor awal yang mereka capai
sebelumnya.
e.
Penghargaan
kelompok: penghargaan kelompok diberikan pada kelompok yang berprestasi.
Kelebihan dan Kelemahan model pembelajaran kooperatif STAD
1.
Kelebihan
a. Meningkatkan
kecakapan individu.
f.
Meningkatkan kecakapan kelompok.
g. Meningkatkan
komitmen.
h. Menghilangkan
prasangka buruk terhadap teman sebaya.
i.
Tidak bersifat kompetitif.
j.
Tidak memiliki rasa dendam.
2.
Kelemahan
a.
Konstribusi dari siswa berprestasi
rendah menjadi kurang.
b.
Siswa berprestasi tinggi akan
mengarah pada kekecewaan karena peran anggota yang pandai lebih dominan.
4. TAI (Team
Assisted Individualization atau Team Accelerated Instruction)
Pembelajaran kooperatif tipe TAI ini dikembangkan oleh Slavin. Tipe ini
mengkombinasikan keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran
idnidvidual. Tipe ini dirancang untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara
individual. Oleh karena itu, kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan
untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe TAI ini adalah setiap siswa secara
individual belajar materi pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru. Hasil
belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling
dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab
atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TAI
adalah sebagai berikut:
a)
Guru memberikan tugas kepada siswa
untuk mempelajari materi pembelajaran secara individual yang sudah dipersiapkan
oleh guru.
b)
Guru memberikan kuis secara
individual kepada siswa untuk mendapatkan skor dasar atau skor awal.
c)
Guru membentuk beberapa kelompok.
Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan tingkat kemampuan yang
berbeda-beda (tinggi, sedang, dan rendah). Jika mungkin, anggota kelompok
terdiri dari ras, budaya, suku yang berbeda tetapi tetap mengutamakan
kesetaraan jender.
d)
Hasil belajar siswa secara
individual didiskusikan dalam kelompok. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota
kelompok saling memeriksa jawaban teman satu kelompok.
e)
Guru memfasilitasi siswa dalam
membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada materi
pembelajaran yang telah dipelajari.
f)
Guru memberikan kuis kepada siswa
secara individual.
g)
Guru memberi penghargaan pada
kelompok berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari
skor dasar ke skor kuis berikutnya (terkini).
Tipe-tipe pembelajaran kooperatif yang telah diuraikan
di atas merupakan tipe-tipe yang paling sering digunakan dalam proses
pembelajaran di kelas.
IV.
MODEL SAINS
DAN TEKNOLOGI MASYARAKAT
A.
Pengertian
Pendekatan STM ( Sains, Teknologi, Masyarakat )
Dalam
disiplin ilmu IPA ada beberapa pendekatan dalam IPA yang perlu kita ketahui
yaitu pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat. Dari ketiga pendekatan ini
masing-masing mempunyai pengertian yaitu,
Sains
adalah sebagai sejumlah disiplin ilmu, sekumpulan pengetahuan, dan sebagai
metode-metode.Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu
rangkaian konsep-konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan
observasi. Sains juga merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan
proses penemuan pengetahuan.
Sains
juga sebagai proses meliputi cara-cara memperoleh, mengembangkan dan menerapkan
pengetahuan yang mencakup cara kerja, cara berfikir, cara memecahkan masalah,
dan cara bersikap. Sains dirumuskan secara sistematis, terutama didasarkan atas
pengamatan eksperimen dan Sains melandasi perkembangan teknologi.
Teknologi
adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian yang maju dalam membuat sesuatu penemuan
yang berkenaan dengan penemuan ilmu alam atau berkaitan dengan hasil industri.
Dalam ilmu Sains teknologi sangat diperlukan karena sangat menunjang terutama
untuk aktivitas dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena
alam dan juga untuk aktivitas penemuan.
Masyarakat
adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan juga dapat diartikan sebagai
himpunan orang yang hidup di suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan
tertentu jadi dapat dikatakan bahwa
masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan
norma-norma sosial tertentu.
Dari
ketiga pengertian pendekatan STM ini maka Sains, Teknologi dan Masyarakat
adalah merupakan kecenderungan baru dalam pendidikan Sains, STM juga dapat
diartikan sebagai pembelajaran Sains dan teknologi dalam konteks pengalaman
manusia. Jadi Sains -Teknologi -Masyarakat atau STM adalah istilah yang
diberikan kepada usha mutakhir untuk menyajikin konteks dunia nyata dalam
pendidikan Sains dan pendalaman Sains.
Pendekatan sains teknologi dan masyarakat
melibatkan siswa dalam penentuan tujuan pembelajaran, prosedur pelaksanaan
pembelajaran, pencarian informasi bahan pembelajaran dan bahkan pada evaluasi
belajar.
B.
Karakteristik Pendekatan Sains Teknologi
Masyarakat (STM)
Dari
seorang Ilmuan Yager (1992), mendefinisikan STM yaitu mencakup tujuan
kurikulum, assesmen dan kususnya mengenai pengajaran. Tujuan-tujuan tersebut dikarakteristikan
sebagai domain yang meliputi domain konsep, proses, aplikasi, kreativitas dan
sikap. Penjelasan dari berapa karakteristik tersebut adalah:
a.
Domain
konsep
Dalam
paham Domain konsep ini lebih memefokuskan pada muatan sains, tujuan-tujuan sains
untu mengelompokan alam yang teramati ke dalam unit-unit yang teratur untuk
studi dan penjelasan hubungan-hubungan fisika dan biologi dari pengajaran sains
yang melibatkan siswa belajar konsep-konsep utama dari sains.
b.
Domain
proses
Dalam
Domain proses ini proses-proses sains
berhubungan dengan bagaimana sains berfikir dan bekerja, yaitu
mengambarkan dimensi sains. Dalam pengembangan proses ini ada 15 keterampilan
proses yaitu:
1.
mengobservasi,
2.
menggunakan ruang/waktu
3.
mengklasifikasi,
4.
mengelompokkan dan mengorganisasi,
5.
menggunakan bilangan
6.
mengkuantifikasi,
7.
mengukur,
8.
mengkomunikasikan,
9.
menginferensi,
10.
memprediksikan,
11.
mengendalikan dan
mengidentifikasi variabel,
12.
menginterpretasikan
data,
13.
merumuskan hipotesis,
14.
memberikan definisi
secara operasional,
15.
melaksanakan
eksperimen.
c.
Domain
aplikasi
Domain
ini meliputi mengaplikasian konsep-konsep dan keterampilan dalam memecahkan
masalah sehari-hari, memahami prinsip-prinsip ilmiah dan prinsip-prinsip
teknologi yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari atau sains.
d.
Domain
Kreativitas
Dalam
domain kreativitas meliputi visualisasi, menghasilkan gambaran mental,
menggabungkan objek-objek dan ide dalam cara-cara baru, memecahkan masalah dan
teka-teki, memprediksi konsekwensi-konsekwensi yang mungkin, menyarankan
alasan-alasan yang mungin, mendesain alat atau mesin dan menghasilkan ide-ide
yang tak biasa.
e.
Domain
Sikap
Dalam
domain sikap meliputi sikap-sikap terhadap sains pada umumnya, seperti kelas
sains, kegunaan belajar sains, dan untuk guru terbentuknya pengembangan
sikap-sikap positif terhadap diri sendiri yaitu sikap yang dapat mengerjakan
sesuatu, ekplorasi emosi manusia, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan
sikap.
C.
Tujuan
Pendekatan Pembelajaran STM (Sains Teknologi Masyarakat )
Menurut
Yager tujuan pembelajaran STM adalah sebagai berikut:
a.
Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk membandingkan dan mengkontraskansains dan teknologi serta
menghargai bagaimana sains dan teknologi memberikan kontribusi pada pengetahuan
dan pengaruh baru.
b. Memberikan
contoh-contoh dari masa lalu dan sekarang mengenai perubahan-perubahan yang
sangat besar dalam bidang sains dan teknologi yang dibawa masyarakat,
pertambahan ekonomi, dan proses-proses politik.
c. Membuat
peserta didik mampu relitas sosial dengan topik pembelajaran didalam kelas.
d. Peserta
didik mampu menggunakan berbagai jalan atau pandangan untuk mensikapi berbagai
isu dan situasi yang berkembang di masyarakat berdasarkan pandangan ilmiah.
e. Membuat
peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki
tanggung jawab sosial.
D.
Komponen-Komponen
Pendekatan STM (Sains Teknologi Dan Masyarakat)
Adapun
komponen-komponen yang terdapat pada pendekatan STM (Sains, Teknologi,
Masyarakat) sebagai berikut:
1. Strategi-strategi
yang berada untuk memberikan pemahaman yang nyata mengenai pola-pola penalaran
dan berfikir dari teman sebayanya, orang dewasa, dan para ahli.
2.
Keterampilan-keterampilan
dalam menguji validitas argumen dan contoh-contoh yang tampaknya terdengar
seperti penalaran ilmiah yang membawa pada kesimpulan yang keliru.
3.
Memotivasi siswa untuk
mengeksplorasi emosi dan nilai-nilai dalam hubungan data dengan bukti-bukti
khusus.
4.
Penggunaan studi
lapangan, pembicaraan tamu, media imformasi, film dan kegiatan-kegiatan siswa,
debat, berbain peran dan simulasi.
E.
Alasan
Pentingnya Pendekatan STM (Sains Teknologi dan Masyarakat)
Alasan
pentingnya STM Digunakan Sebagai Salah Satu Pendekatan dalam Pengajaran IPA di
Sekolah adalah:
1) Untuk
dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa, sehingga siswa akan dapat
terlibat secara aktif mengidentifikasi isu – isu sosial dan teknologi yang
terdapat di sekitar lingkungan dan masyarakat.
2) Untuk
memecahkan isu – isu sosial
3) Untuk
membuat sains dapat dipahami oleh semua siswa.
4) Pengajaran
sains dengan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat akan mendekatkan siswa
kepada obyek yang dibahas
5) Dapat
memberikan pengetahuan dan pengertian kepada generasi muda yang mereka butuhkan
dan memahami masalah-masalah sosial yang muncul sebagai akibat sains dan
teknologi.
6) Pengajaran
sains dengan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat merupakan suatu konteks
pengembangan pribadi dan sosial.
7) Dapat
memberikan kepercayaan diri kepada generasi muda dan untuk berperan serta dalam
teknologi
F.
Manfaat pendekatan STM (Sain, Teknologi, dan
Masyarakat)
Adapun
manfaat dari suatu pendekatan STM ( Sains, Teknologi, Masyarakat) yaitu:
1) Pendekatan
STM efektif untuk penguasaan konsep dalam diri murid.
2) Dalam
ranah penerapan/aplikasi murid-murid yang diberikan pendekatan STM menunjukan
kemampuan menerapkan konsep-konsep sains (IPA) dalam kehidupan sehari-hari
3) Dalam
ranah sikap, hasil penelitian menunjukan bahwa murid-murid yang diberikan
pendekatan STM mempunyai sikap yang lebih positif terhadap pelajaran sains.
4) Dan
siswa dapat menjadi pelajar yang bisa bersikap dan tau teknologi.
5) Serta
untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan.
Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam
masyarakat, dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya.
6) Siswa
menjadi lebih kreatif, hal ini akan terlihat dari banyaknya
pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan karena besarnya rasa ingin tahu
mereka. Mereka juga menjadi lebih mudah dan terampil mengidentifikasi penyebab
atau dampak penggunaan suatu teknologi
G.
Kekurangan
Pendekatan STM (Sains, Teknologi, Masyarakat)
Dari
manfaat yang telah kita ketahui, ternyata dalam pendekatan STM ada juga sebuah
kekurangannya, kekurangan tersebut adalah:
1) Dilihat
pada guru yang belum menguasai sains teknologi sehingga guru susah untuk
mentransfer materi pembelajaran dengan sains teknologi masyarakat
2) Selain
itu peserta didik khusunya siswa yang berada di kelas rendah, belum mampu
mengoperasikan sains teknologi yang sudah ada.
3) Fasililitas
pendukung pada beberapa sekolah kurang atau hampir tidak ada itu yang menjadi
kendala STM.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional.
2003. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Departemen
Pendidikan
Nasional.
Ibrahim, Muslimin, dkk.
2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESA Press
Johnson, D.W. & Johnson, R.T.,
1991, Learning Together and Alone:
Cooperative,
Competitive, and
Individualistic Learning (3rd edition), Upper
Saddle River, NJ: Prentice-Hall.
Mulyasa, E. 2008. Menjadi Guru Profesional, Menciptakan
Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan.
Bandung: Remaja Rosdakarya
Nurhadi. 2003. Pendekatan
Kontekstual. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.
Sanjaya, W. 2006. Strategi
Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Sugiyanto. 2007. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru
(PLPG): Model-model
Pembelajaran Inovatif.
Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 Surakarta.
Trianto.
2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif
Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Yager,
Robert. E (1992). The STS Aproach Parallels Constructivist Practices. Science Education International, Vol. 3,
No. 2.
Subscribe to:
Posts (Atom)